Tanah Warisan 280

Jumat, 24-05-2002
 Ternyata semula tidak ada seorang pun yang memperhatikan kehadirannya. Namun kini tiba-tiba setiap mulut berdesis, “Panggiring. Ya, Panggiring.”
Ketegangan dihalaman itu menjadi semakin memuncak. Setiap dada menjadi bergejolak.

Tanah Warisan 279

Kamis, 23-05-2002
 Bramanti tidak menjawab. Tetapi yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat adalah siksaan yang tiada taranya. Meskipun ia sadar, tetapi ia tidak mengeluh.
Ketika Bramanti mencoba bangkit, tiba-tiba saja ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berada setebal daun dihadapan mata Bramanti, sehingga Bramanti terpaksa mengurungkan niatnya.

Tanah Warisan 278

Rabu, 22-05-2002
 Cahaya dilangitpun menjadi semakin lama semakin terang. Beberapa orang yang berdiri diseputar halaman segera dapat melihat, selain keringat, pakaian Bramanti telah diwarnai oleh bintik-bintik darahnya. Ternyata ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berhasil menyentuhnya beberapa kali.

Tanah Warisan 277

Selasa, 21-05-2002
 Bramanti mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Ia tidak mau terpengaruh oleh kecepatan bergerak tangan Panembahan Sekar Jagat.

Tanah Warisan 276

Senin, 20-05-2002
 Tetapi yang sebenarnya tersirat di dalam hati Ratri adalah kecemasannya tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Bramanti. Seperti pada saat ia tanpa dapat dikendalikan lagi ingin bertemu dengan Panggiring, maka kini ia telah berbuat serupa. Ia ingin melihat akhir dari perkelahian yang sedang berkecamuk di halaman.

Tanah Warisan 274

Minggu, 19-05-2002
 Tetapi kakinya masih juga melangkah satu-satu. Semakin lama semakin menjauhi kampung halaman.
Sementara itu Ratri datang berlari-lari di gardu yang pertama-tama ia jumpai. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkan beberapa orang yang sedang berada di gardu itu.

Tanah Warisan 273

Sabtu, 18-05-2002
 Panggiring tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah gadis yang masih berdiri kaku dihadapannya. Namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya, “Aku sudah berjanji kepada diri sendiri, bahwa aku tidak akan lagi mempergunakan kekerasan untuk maksud apapun.”

Tanah Warisan 272

Jumat, 17-05-2002
 Ratri menjadi hampir pingsan ketika laki-laki yang bernama Panggiring itu melangkah mendekatinya. Apalagi ketika semakin dekat, ternyata semakin nyata bahwa Panggiring itu sama sekali sudah berubah. Wajahnya sama sekali bukan wajah yang selama ini dibayangkannya. Wajah ini adalah wajah yang kasar, dan bahkan wajah yang penuh dengan noda-noda dan bekas-bekas luka.

Tanah Warisan 271

Kamis, 16-05-2002
 Panggiring menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir saja ia mati tercekik justru karena ia menyuapi mulutnya terlampau banyak. Sedemikian laparnya, sehingga ia ingin menelan sebungkus nasi itu sekaligus.

Tanah Warisan 270

Rabu, 15-05-2002
 Orang-orang di halaman itu tidak dapat melihat wajah itu dengan sempurna. Tetapi mereka menduga bahwa Panembahan Sekar Jagat berumur kira-kira dipertengahan abad.