Selasa, 14-05-2002
“Persetan,” Ki Jagabaya yang menjawab, “Ayo, lakukanlah.”
Panembahan Sekar Jagat merenung sejenak. Sekali ia berpaling dan beberapa orangnya melangkah maju.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Senin, 13-05-2002
Ki Tambi tidak segera menjawab. Dipandanginya Bramanti yang berdiri tegak seperti patung.
Namun tiba-tiba Ki Tambi berkata lantang, “Itu omong kosong. Tidak ada orang yang pernah bersalah terhadap kalian. Kalianlah yang bersalah terhadap kami,” kemudian ia berpaling kepada Bramanti.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Minggu, 12-05-2002
“Ya,” jawab salah seorang dari keduanya.
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian orang-orang lain yang berada disekitarnya. Ternyata bahwa di kebun belakang Kademangan itu telah penuh dengan para pengawal. Hampir pada setiap batang pohon bersandar anak-anak muda yang bersenjata telanjang.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Sabtu, 11-05-2002
“Bukan begitu. Mereka sedang berbicara. Panembahan Sekar Jagat mempunyai beberapa tuntutan.”
“Apakah Bramanti hanya seorang diri?”
“Tidak. Temunggul, Ki Jagabaya dan hampir semua pengawal berada disana. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dan kami pun hanya menunggu perintah. Kami berada di luar kepungan laskar Panembahan Sekar Jagat. Tugas kami adalah memecahkan kepungan itu dari luar.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Jumat, 10-05-2002
Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun lambat, namun mereka berdua akhirnya telah memasuki pedesaan. Betapa gelisahnya Ki Tambi namun ia masih mencoba menahan diri. Dengan sareh ia memapah Nyai Pruwita naik ke pendapa, kemudian membawanya masuk ke rumahnya. Perlahan-lahan dilayaninya perempuan itu duduk di amben bambu di ruang tengah.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Rabu, 08-05-2002
Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Itu adalah suatu sikap hati-hati. Mungkin tidak ada apa-apa, namun mungkin anak-anak itu melihat sesuatu yang mereka curigai.”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Selasa, 07-05-2002
“He, kau dengar suara titir itu?” bertanya salah seorang pengawal kepada kawannya.
“Ya, titir.”
“Dan kau tahu artinya?”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Senin, 06-05-2002
“Bramanti, Bramanti,” teriak Ki Tambi. Tetapi Bramanti tidak menyahut. “He, apakah kau sudah gila he?”
Bramanti melangkah terus. Semakin cepat, semakin cepat.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Minggu, 05-05-2002
“Terlalu, terlalu kau Bramanti. Kau benar-benar kejam. Kejam sekali. Sebenarnya kau tidak dapat berbuat begitu.”
“Kenapa? Tanah itu adalah tanah peninggalan ayahku. Kenapa?”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Sabtu, 04-05-2002
“Apakah lukamu disaat terakhir telah membuatmu cacat. Membuat tanganmu lumpuh, atau kakimu atau apapun padamu Panggiring?” teriak Ki Tambi.
“Tidak paman. Ternyata hatikulah yang lumpuh selama ini. Justru baru disaat terakhir hati itu mampu bekerja keras.”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »