Kedaulatan rupiah
Ngobrol sama Paidi & Paipung menjelang pulang kerja sambil menuju smocking corrner, topik yang di bicarakan cukup hangat. Dan tentu saja seputar nasib Indonesia raya ini di kancah perekonomian dunia. Obrolan ini seperti dalam film china “the god must be crazy” bagaimana tidak?, lha wong kami bertiga tidak mengerti tethek bengek tentang ekonomi, tiba-tiba dengan sok tahunya membahas rupiah yang terpuruk. Masing-masing kami mengungkapkan pendapat tentang rupiah yang terpuruk, tentang utang luar negeri yang membengkak seakan-akan kami bertiga adalah pakar ekonomi. Juga tentang krisis ekonomi yang cukup mencurigakan menurut Paipung, karena terjadi berulang-ulang seakan-akan telah di scenario. Konon kabarnya terjadi setiap 10 tahun sekali. Aku sendiri baru ngalami 2 kali. Tahun 98 & sekarang.
![]()
Setelah melalui diskusi yang muter-muter akhirnya kami bertiga menyimpulkan “Rupiah harus berdaulat”. Kalo udah ngomong tentang kedaulatan maka kaitanya adalah kemerdekaan dan penjajahan -(sebenarnya ada kaitanya apa tidak ya).Lho koq berdaulat memangnya selama ini rupiah tidak berdaulat apa ya? kalo sedulur semua ingin melihat rupiah berdaulat apa tidak coba datang ke toko-toko elektronik di Batam - mungkin di kota laen juga begitu. Sangat mengherankan mereka para pedagang elektronik itu berjualan di wilayah teritorial Indonesia, tapi setiap melakukan transaksi di kalkulasi dengan dollar. Sebagai warga negara yang cinta tanah air dan bangsa tentu saja rasa nasionalisme-ku tersinggung.
Bagaimanan mungkin mereka berdagang di Indonesia tapi selalu melakukan kalkulasi dengan dollar? sebenarnya ingin ku marahi si pedagang itu. Tapi apa daya tangan tak sampai
teriakan ku kira-kira begini “Di sini wilayah Indonesia, mata uang yang berlaku adalah Rupiah, maka berdaganglah menggunakan mata uang Rupiah. terserah Dollar mau naik, mau turun. Yang penting di sini, di wilayah Indonesia ini, mata uang yang berlaku adalah Rupaih, selain Rupiah tidak berlaku di sini!!!” kira-kira begitu yang ku makzud dengan kedaulatan Rupiah. Kalo di negeri ini orang masih bertransaksi menggunakan mata uang asing, maka itu adalah bentuk penghinaan terhadap kedaulatan Rupiah
Orang-orang yang memborong dollar kemudian mencari keuntungan dari selisih terpuruknya Rupiah maka mereka itu adalah penghianat bangsa. Bersenang-senang di atas penderitaan rakyat sebangsa & setanah Air
Si Paipung & Paidi cengengesan menyimak pendapatku tentang kedaulatan rupiah.
Giliran Paidi mengungkapken pendapatnya, topik yang di ugkapken Paidi lebih serem dari yang ku ungkapkan barusan. Paidi dengan gaya negosiasi ala Soekarno yang sedang pusing 7 keliling mikir utang negara yang jatuh tempo dan selalu membengkak berlipat-lipat setiap 10 tahun, akibat nilai rupiah yang selalu terdepresiasi -(iki artine opo to? :)) Paipung menambahken “Krisis tiap 10 tahunan ini, sebenarnya udah di rencanakan kayaknya”. Paidi menimpalinya “Iya ini adalah salah satu setrategi untuk mengeruk kekayaan negara penghutang, Karena kalo di biarkan ya akan cepet lunas. Strategi mengeruk keuntungan jadi tidak berhasil”
Paidi tiba-tiba punya ide cemerlang, yang bahkan lebih cemerlang daripada tim negosiator utang Luar Negeri Indonesia :)”Begini Pung, seharusnya dulu waktu Indonesia di tawari hutang, Indonesia terima kalo memang butuh, tapi dengan syarat. Indonesia berhutang dalam mata uang Rupiah bukan dalam dollar, Karena mata uang indonesia adalah Rupiah jadi nanti kalo dollar mau naik turun, perekonoimian Indonesia tidak kena Imbasnya”.
“Waduh Pung, Di, kalo begitu caranya nanti kita di embargo” tanggapanku pesimis. Mendengar jawabanku ini si Paipung malah terbakar seperti bara api yang di siram bensin “Lho biarkan aja cak. Negara mana di dunia ini yang berani embargo Indonesia, sejatinya mereka semua yang butuh Indonesia, ya untuk di keruk tambangnya, di sedot minyaknya, di manfaatkan hutan-nya, Negara maju boleh nebang hutan dan di sulap menjadi perkotaan, kenapa indonesia tidak boleh?, kenapa hanya Indonesia yang harus menjaga hutan, harus menjadi paru-paru dunia? sementara Negara -negara maju itu bebas membangun apapun, Coba aja kita tebangi hutan mereka lak Langsung kiamat bumi ini, atau kita bakar Batam ini maka Singapore yang akan lumpuh”.
Aku manthuk-manthuk mencoba menyetujui pendapat Paipung. Paipung melanjutkan lagi “Sampeyan tenang aja cak, Negara manapun yang di embargo oleh US dan temen-temenya itu malah maju”. “Maju apanya pung?” aku gak paham. “Lho logikanya kalo di embargo kan kita akan terpaksa membuat seluruh kebutuhan kita, butuh mobil buat mobil, butuh sepeda buat sepeda, butuh motor buat motor, butuh nuklir buat nuklir, contoh Iran & Korea Utara, apapun akan kita buat sendiri, Kita juga nggak akan khawatir dengan bahan-bahan, Semua melimpah”
Diskusi panas ini berakhir ketika kami bertiga sampe di parkiran motor. Dan beberapa saat kemudian ngacir ke rumah masing-masing.
Posted on November 28th, 2008 by panggiring
Filed under: imho 345 Views





on November 29th, 2008 at 8:42 am Said:
ya gimana lagi kang
bisa bangkrut penjualnya ntar. kecuali klo di endon udah ada semua dan tdk perlu kulakan menggunakan dollar saya rasa ndak masalh rupaih berdaulat
wong kulakannya makai dollar masak jualannya ngikuti rupiah
on November 29th, 2008 at 10:35 pm Said:
Husss!!!
nggak boleh menggunakan kata endon/indon, konotasinya negatif terbelakang dan melecehkan sekali. itu yang di lakukan oleh orang-orang negeri jiran sana saat manyebut temen-temen TKI.
btw,
Secara ekonomi indonesia mungkin sekarang kalah denga negeri jiran. tapi secara budaya menang. Lah mosok ada perkumpulan artis jiran yang mengusulkan peredaran musik/lagu dari Indonesia di batasi. sekarang kabarnya di radio-radio di negeri jiran sana kebanyakan request pendengar adalah lagu-lagu Indonesia.
Kembali ke rupiah.
Yah setidak-tidaknya saat jualan nggak perlu ngitung-ngitung terus pake kalkulator. Patok aja harganya sekian rupiah.
on December 2nd, 2008 at 9:33 pm Said:
kadang saya juga mikir, kenapa kita selalu ngikut luar. mata uang rupiah selalu melemah tiap tahunnya . Mbok kita bikin patokan sendiri 1 rupiah = 1 dolar,
Bisa ngak ya gan ?
eh paidi itu nama simbah saya.. heheh
on December 3rd, 2008 at 7:07 pm Said:
Sebenarnya ga repot jika harus jual pake rupiah meski kulak’annya pake dollar. Harga kan bisa berpatok pada kurs saat dia belanja. Dijamin harga pasti stabil jika margin keuntungannya tetap.
Jika kulakannya sekarang trus saat jual ntar ternyata rupiah menguat, yach, tetep naikkan aja harganya, karena harga mengikuti margin yang tetap. Konsumen juga pasti ngerti, bingung amat, amat aja ga bingung, hehe…
=> kuli yang juga coba ikut2an ngomonk ttg ekonomi <=
on February 7th, 2009 at 6:54 pm Said:
kebijakan politik ekonomi, akhirnya balik lagi ke pemerintah. pemerintah, ujung-ujungnya ke presiden dan DPR: berani ndak bikin ‘gebrakan’ melawan kapitalisme global?
btw, paidi karo paipung kuwi sopo Om ?