Rabu, 01-05-2002
”Ya, ibu. Aku akan melakukannya,” jawab Panggiring, kemudian, “Sudahlah ibu, aku minta diri. Aku berterima kasih atas kesediaan ibu datang ke tempat ini menemui aku,” lalu kepada Ki Tambi, “Paman telah memberikan kesempatan yang luar biasa kepadaku. Terima kasih paman.”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Selasa, 30-04-2002
Dan ternyata Ratri tidak dapat melawan dorongan itu. Meskipun debar jantungnya menjadi kian cepat, namun ia berjalan juga melintasi halaman rumahnya. Ia terhenti di regol ketiga ia melihat dua orang itu agaknya ingin juga pergi ke sawah untuk melihat apa yang bakal terjadi.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Minggu, 28-04-2002
Bramanti seakan-akan tidak sabar lagi dengan langkah kakinya. Ingin agaknya ia dapat melompat langsung ke tengah sawah. Sawah Ki Tambi. Pertemuan itu pasti telah terjadi disana.
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Sabtu, 27-04-2002
Dan Ki Tambi itu pun menyaksikannya sambil menyapu dadanya dengan telapak tangannya. Dalam pada itu, seorang pengawal telah berlari-lari masuk kehalaman Kademangan dengan nafas terengah-engah. Ketika kawannya bertanya kepadanya, maka tanpa menghiraukan pertanyaan itu ia berdesis, “Dimana Bramanti?”
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Jumat, 26-04-2002
Ki Tambi tidak menyahut. Kepalanya pun kemudian tertunduk. Ia tidak sampai hati menatap wajah anak muda yang muram itu. Wajah itu sama sekali bukan wajah Panggiring yang ditemuinya di pesisir Utara. Bukan wajah seorang perampok yang ganas. Tetapi wajah itu adalah wajah yang sedih.
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Kamis, 25-04-2002
“Mereka berada dalam kesiap siagaan penuh karena mereka mendengar…..,” Ki Tambi berhenti sejenak. Tiba-tiba terbersit dugaan seperti yang pernah didengarnya dari mulut-mulut anak-anak muda, “Apakah tidak mungkin bahwa Panembahan Sekar Jagat itu juga Panggiring?”
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Rabu, 24-04-2002
Alangkah tersiksanya ia menunggu sambil berendam di dalam air. Namun ia sudah bertekad untuk menunggu. Karena itu, maka ia masih tetap pula berada di tempatnya.
Akhirnya yang ditunggunya itu pun datang pula. Sesosok tubuh yang hampir tidak dikenalnya sama sekali. Panggiring.
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Selasa, 23-04-2002
“Bukan main,” gumam kawan-kawannya yang masih berada di gardu, “Sebagian terbesar dari mereka sudah tidur.”
“Baik. Mereka akan menghemat tenaga mereka, yang apabila perlu setiap saat akan kita pergunakan.”
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Selasa, 23-04-2002
“Bukan main,” gumam kawan-kawannya yang masih berada di gardu, “Sebagian terbesar dari mereka sudah tidur.”
“Baik. Mereka akan menghemat tenaga mereka, yang apabila perlu setiap saat akan kita pergunakan.”
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Senin, 22-04-2002
Tidak seorang pun yang mengetahui dan memperhatikan bahwa rumah Ki Demang itu sebenarnya telah kosong sama sekali. Mereka yang ada di halaman masih melihat sinar lampu minyak yang meloncat dari celah-celah genting dan lubang-lubang dinding, sehingga mereka menyangka, bahwa Ki Demang masih berada di dalam rumahnya dan tidak menampakkan dirinya seperti biasanya.
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »