Tanah Warisan 257

Rabu, 01-05-2002
 ”Ya, ibu. Aku akan melakukannya,” jawab Panggiring, kemudian, “Sudahlah ibu, aku minta diri. Aku berterima kasih atas kesediaan ibu datang ke tempat ini menemui aku,” lalu kepada Ki Tambi, “Paman telah memberikan kesempatan yang luar biasa kepadaku. Terima kasih paman.”

Tanah Warisan 256

Selasa, 30-04-2002
 Dan ternyata Ratri tidak dapat melawan dorongan itu. Meskipun debar jantungnya menjadi kian cepat, namun ia berjalan juga melintasi halaman rumahnya. Ia terhenti di regol ketiga ia melihat dua orang itu agaknya ingin juga pergi ke sawah untuk melihat apa yang bakal terjadi.

Tanah Warisan 255

Minggu, 28-04-2002
 Bramanti seakan-akan tidak sabar lagi dengan langkah kakinya. Ingin agaknya ia dapat melompat langsung ke tengah sawah. Sawah Ki Tambi. Pertemuan itu pasti telah terjadi disana.

Tanah Warisan 254

Sabtu, 27-04-2002
 Dan Ki Tambi itu pun menyaksikannya sambil menyapu dadanya dengan telapak tangannya.  Dalam pada itu, seorang pengawal telah berlari-lari masuk kehalaman Kademangan dengan nafas terengah-engah. Ketika kawannya bertanya kepadanya, maka tanpa menghiraukan pertanyaan itu ia berdesis, “Dimana Bramanti?”

Tanah Warisan 253

Jumat, 26-04-2002
 Ki Tambi tidak menyahut. Kepalanya pun kemudian tertunduk. Ia tidak sampai hati menatap wajah anak muda yang muram itu. Wajah itu sama sekali bukan wajah Panggiring yang ditemuinya di pesisir Utara. Bukan wajah seorang perampok yang ganas. Tetapi wajah itu adalah wajah yang sedih.

Tanah Warisan 252

Kamis, 25-04-2002
 “Mereka berada dalam kesiap siagaan penuh karena mereka mendengar…..,” Ki Tambi berhenti sejenak. Tiba-tiba terbersit dugaan seperti yang pernah didengarnya dari mulut-mulut anak-anak muda, “Apakah tidak mungkin bahwa Panembahan Sekar Jagat itu juga Panggiring?”

Tanah Warisan 251

Rabu, 24-04-2002
 Alangkah tersiksanya ia menunggu sambil berendam di dalam air. Namun ia sudah bertekad untuk menunggu. Karena itu, maka ia masih tetap pula berada di tempatnya.
Akhirnya yang ditunggunya itu pun datang pula. Sesosok tubuh yang hampir tidak dikenalnya sama sekali. Panggiring.

Tanah Warisan 250

Selasa, 23-04-2002
 “Bukan main,” gumam kawan-kawannya yang masih berada di gardu, “Sebagian terbesar dari mereka sudah tidur.”
“Baik. Mereka akan menghemat tenaga mereka, yang apabila perlu setiap saat akan kita pergunakan.”

Tanah Warisan 250

Selasa, 23-04-2002
 “Bukan main,” gumam kawan-kawannya yang masih berada di gardu, “Sebagian terbesar dari mereka sudah tidur.”
“Baik. Mereka akan menghemat tenaga mereka, yang apabila perlu setiap saat akan kita pergunakan.”

Tanah Warisan 249

Senin, 22-04-2002
 Tidak seorang pun yang mengetahui dan memperhatikan bahwa rumah Ki Demang itu sebenarnya telah kosong sama sekali. Mereka yang ada di halaman masih melihat sinar lampu minyak yang meloncat dari celah-celah genting dan lubang-lubang dinding, sehingga mereka menyangka, bahwa Ki Demang masih berada di dalam rumahnya dan tidak menampakkan dirinya seperti biasanya.