Kamis, 23-05-2002
Bramanti tidak menjawab. Tetapi yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat adalah siksaan yang tiada taranya. Meskipun ia sadar, tetapi ia tidak mengeluh.
Ketika Bramanti mencoba bangkit, tiba-tiba saja ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berada setebal daun dihadapan mata Bramanti, sehingga Bramanti terpaksa mengurungkan niatnya. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 239 Views
Rabu, 22-05-2002
Cahaya dilangitpun menjadi semakin lama semakin terang. Beberapa orang yang berdiri diseputar halaman segera dapat melihat, selain keringat, pakaian Bramanti telah diwarnai oleh bintik-bintik darahnya. Ternyata ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berhasil menyentuhnya beberapa kali. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 152 Views
Selasa, 21-05-2002
Bramanti mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Ia tidak mau terpengaruh oleh kecepatan bergerak tangan Panembahan Sekar Jagat. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 139 Views
Senin, 20-05-2002
Tetapi yang sebenarnya tersirat di dalam hati Ratri adalah kecemasannya tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Bramanti. Seperti pada saat ia tanpa dapat dikendalikan lagi ingin bertemu dengan Panggiring, maka kini ia telah berbuat serupa. Ia ingin melihat akhir dari perkelahian yang sedang berkecamuk di halaman. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 117 Views
Minggu, 19-05-2002
Tetapi kakinya masih juga melangkah satu-satu. Semakin lama semakin menjauhi kampung halaman.
Sementara itu Ratri datang berlari-lari di gardu yang pertama-tama ia jumpai. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkan beberapa orang yang sedang berada di gardu itu. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 146 Views
Sabtu, 18-05-2002
Panggiring tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah gadis yang masih berdiri kaku dihadapannya. Namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya, “Aku sudah berjanji kepada diri sendiri, bahwa aku tidak akan lagi mempergunakan kekerasan untuk maksud apapun.” Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 159 Views
Jumat, 17-05-2002
Ratri menjadi hampir pingsan ketika laki-laki yang bernama Panggiring itu melangkah mendekatinya. Apalagi ketika semakin dekat, ternyata semakin nyata bahwa Panggiring itu sama sekali sudah berubah. Wajahnya sama sekali bukan wajah yang selama ini dibayangkannya. Wajah ini adalah wajah yang kasar, dan bahkan wajah yang penuh dengan noda-noda dan bekas-bekas luka. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 133 Views
Kamis, 16-05-2002
Panggiring menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir saja ia mati tercekik justru karena ia menyuapi mulutnya terlampau banyak. Sedemikian laparnya, sehingga ia ingin menelan sebungkus nasi itu sekaligus. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 131 Views
Rabu, 15-05-2002
Orang-orang di halaman itu tidak dapat melihat wajah itu dengan sempurna. Tetapi mereka menduga bahwa Panembahan Sekar Jagat berumur kira-kira dipertengahan abad. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 147 Views
Selasa, 14-05-2002
“Persetan,” Ki Jagabaya yang menjawab, “Ayo, lakukanlah.”
Panembahan Sekar Jagat merenung sejenak. Sekali ia berpaling dan beberapa orangnya melangkah maju. Read more…
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments » 134 Views