Tanah Warisan 268

Senin, 13-05-2002
 Ki Tambi tidak segera menjawab. Dipandanginya Bramanti yang berdiri tegak seperti patung.
Namun tiba-tiba Ki Tambi berkata lantang, “Itu omong kosong. Tidak ada orang yang pernah bersalah terhadap kalian. Kalianlah yang bersalah terhadap kami,” kemudian ia berpaling kepada Bramanti. Read more…

Tanah Warisan 267

Minggu, 12-05-2002
 “Ya,” jawab salah seorang dari keduanya.
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian orang-orang lain yang berada disekitarnya. Ternyata bahwa di kebun belakang Kademangan itu telah penuh dengan para pengawal. Hampir pada setiap batang pohon bersandar anak-anak muda yang bersenjata telanjang. Read more…

Tanah Warisan 266

Sabtu, 11-05-2002
 “Bukan begitu. Mereka sedang berbicara. Panembahan Sekar Jagat mempunyai beberapa tuntutan.”
“Apakah Bramanti hanya seorang diri?”

“Tidak. Temunggul, Ki Jagabaya dan hampir semua pengawal berada disana. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dan kami pun hanya menunggu perintah. Kami berada di luar kepungan laskar Panembahan Sekar Jagat. Tugas kami adalah memecahkan kepungan itu dari luar. Read more…

Tanah Warisan 265

Jumat, 10-05-2002
 Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun lambat, namun mereka berdua akhirnya telah memasuki pedesaan. Betapa gelisahnya Ki Tambi namun ia masih mencoba menahan diri. Dengan sareh ia memapah Nyai Pruwita naik ke pendapa, kemudian membawanya masuk ke rumahnya. Perlahan-lahan dilayaninya perempuan itu duduk di amben bambu di ruang tengah. Read more…

Tanah Warisan 264

Rabu, 08-05-2002
 Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Itu adalah suatu sikap hati-hati. Mungkin tidak ada apa-apa, namun mungkin anak-anak itu melihat sesuatu yang mereka curigai.” Read more…

Tanah Warisan 263

Selasa, 07-05-2002
 “He, kau dengar suara titir itu?” bertanya salah seorang pengawal kepada kawannya.
“Ya, titir.”

“Dan kau tahu artinya?” Read more…

Tanah Warisan 262

Senin, 06-05-2002
 “Bramanti, Bramanti,” teriak Ki Tambi. Tetapi Bramanti tidak menyahut. “He, apakah kau sudah gila he?”
Bramanti melangkah terus. Semakin cepat, semakin cepat. Read more…

Tanah Warisan 261

Minggu, 05-05-2002
 “Terlalu, terlalu kau Bramanti. Kau benar-benar kejam. Kejam sekali. Sebenarnya kau tidak dapat berbuat begitu.”
“Kenapa? Tanah itu adalah tanah peninggalan ayahku. Kenapa?” Read more…

Tanah Warisan 260

Sabtu, 04-05-2002
 “Apakah lukamu disaat terakhir telah membuatmu cacat. Membuat tanganmu lumpuh, atau kakimu atau apapun padamu Panggiring?” teriak Ki Tambi.
“Tidak paman. Ternyata hatikulah yang lumpuh selama ini. Justru baru disaat terakhir hati itu mampu bekerja keras.” Read more…

Tanah Warisan 259

Jumat, 03-05-2002
 “Bukan itu soalnya ibu. Bukan secuwil tanah itu yang penting bagiku. Tetapi seluruh isi Kademangan mengenal siapa Panggiring.”
Ki Tambi menundukkan kepalanya. Ia adalah sumber berita itu. Kalau ia tidak menyebutnya, mungkin keadaan akan berbeda. Read more…

Friendship